Kamis, 10 Desember 2015

DAHSYATNYA ARUNG JERAM SUNGAI ELO




DAHSYATNYA ARUNG JERAM SUNGAI ELO




Action di samping Bus
 

Rinai hujan pada jumat malam 04 Des 2015 dini hari tak menyurutkan aku dengan istreriku untuk berangkat menuju start rombongan di Kankemenag Pacitan. Kami berangkat dari tepat pukul 01.00 WIB. dengan 2 bus Wisata Aneka Jaya membawa rombongan menuju Magelang. Deru bus serta alunan musik me mecah kesunyian malam  menghantar dingin, sehingga melelapkan tidur peserta 90 orang malam itu, yang  akan menuju tempat  untuk melakukan tes adrenalin. Ya,  mengarungi jeram-jeram sungai Elo yang terletak di Desa Blondo Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Tak terasa dalam lelap  sekitar  3,5 jam perjalanan kami tiba di Kampung Ulu Resort, Magelang.

Action di Kampung Ulu Resort


Rombongan turun dari bus langsung menuju tempat wudhu untuk melaksanakan salat subuh bersama-sama. Rona matahari pagi yang kami tunggu-tunggu untuk diabadikan dalam foto digital ternyata diselimuti mendung. Bagi yang suka selfie ia memanfaatkan moment untuk selfie dengan latar belakang tulisan yang cukup besar “Kampung Ulu Resort”. Sebagian dari mereka meminta penulis untuk mengabadikan dengan kamera DSLR dengan kaos seragam Rafting Elo dari panitia.

Semetara yang lainnya ada yang menuju resto untuk coffee morning sembari menunggu meeting poin di “Joglo Sriwijaya”.  Bus-bus dari beberapa daerah mulai berdatangan, terlihat beberapa kelompok dari institusi nampak pada kaos seragam yang dikenakannya. Tepat pada pukul 05.30 Sabtu pagi kami kumpul sembari menikmati hangatnya kopi pagi dan teh panas, sekaligus mendapatkan arahan dan sarapan pagi. 

Sarapan Pagi di Joglo Sriwijaya

Ngopi
 
Usai Sarapan
Pukul 07.00 kami dijemput angkot  menuju lokasi start  dengan mobil angkot serta perahu yang terikat di atap angkot kami tersebut. Angkot2 yg mengangkut kami berjalan cukup kencang kendati jaraknya dari “Kampung Ulu Resort” sekitar 4 km atau 15 menit (plus lampu merah-pen). seolah tahu keinginan kami untuk segera tiba di tujuan yaitu sungai Elo.
Sebelum memulai rafting Pemandu dari penyelenggara membagi kami menjadi 15 kelompok yang masing2 dari perahu terdiri dari 6 orang. Lalu pemandu memberikan arahan cara menggunakan dayung hingga cara mengantisipasi saat terjadi masalah untuk keselamatan kami selama melakukan pengarungan tersebut. Dan kamipun segera menuju perahu yg parkir di pinggiran sungai dengan menuruni jalan yang cukup licin Beberapa ratus meter dari titik start keadaan air masih flat dan tenang.

 
Pengarahan Sebelum Terjun ke Sungai

 
Foto dulu bersama isteri sebelum mengarungi Sungai Elo
Perahu yang kami naiki berjumlah 6 orang yang ternyata hanya penulis  dan 1 pemandu yang punya jam tebang bermain dayung. Dua ratus meter kemudian akhirnya jeram pertama yang dinantikan pun sudah telihat. Kamipun masuk ke jeram pertama dengan teriakan yang menambah suasana fun lebih terasa. Beberapa jeram selanjutnyapun kami arungi dengan lancar hingga akhirnya pada jeram yang cukup besar ada beberapa peserta yang terjatuh,  Byuuurr ...... Heee .....  mereka yang jatuh tidak bisa renang harus puas minum kopi susu khas air sungai Elo yang semalam diguyur hujan. 

Baca Sebelum Rafting


Start Rafting 

 Penulis yang sudah terlatih dalam urusan dayung justeru bisa usil menyalip peserta lainnya sembari memberi hadiah siraman air pada peserta lain yang dilaluinya. Tidak peduli atasan atau bahawan saat di kantor, tapi di arung jeram semuanya peserta, mereka fun-fun aja kendati dapat siraman air pun juga penulis happy-happy aja saat mendapat siraman dari mentor/guide rafting senior sungai Elo yang mungkin merasa jengkel karena tali perahunya penulis tarik dari belakang untuk menyalip. Sang mentor akhirnya menarik baju pelampung penulis dengan stik dayung, Byuuuur ...... penulis akhirnya juga jatuh. No problem  !!! Bisa renang ...  heee .....   

 
Kepala Kankemenag dan Teamnya

 
Pos Peristirahatan sembari menikmati air dengan dan kue desa
Yang membuat beda dari sungai Elo adalah sungainya tidak selebar Progo Atas sehingga arus tidak terlalu deras, bahkan banyak spot yang bisa digunakan untuk berenang bebas. Rafting sekali lagi merupakan olahraga yang fun, jadi jangan tersinggung bila mendapati perahu lain menguyur air ke badan atau bahkan sampai menceburkan kita ke sungai.
Di tengah pengarungan sungai kami berhenti dan menyempatkan beristirahat sekitar setengah jam untuk menikmati penganan ringan dan kelapa muda yang telah disediakan oleh penyelenggara, sejuk dan manis terasa air kelapa yg kami minum menawarkan dahaga dan lelah selama pengarungan. Selesai beristirahat kami segera melanjutkan perjalanan rafting kami yang tinggal 6 km.

 
Serunya Jeram Sungai Elo

Sungai elo cukup banyak memiliki flat arus yang sangat tenang, peserta yang sangat kecanduan berenang atau main air tepatnya sungguh kegirangan karena menemukan “kolam renang” yang panjang dengan airnya yang cukup sejuk, belum lagi pemandangan yang indah yang terkadang dipagari tebing-tebing dengan pepohonan bambu yang rindang
Tak terasa 3,5 jam kami telah selesai rafting,  kami segera dibawa kembali ke meeting poin “Kampung Ulu Resort” di daerah Mungkid untuk mandi dan mengganti pakaian dan tentu saja santap siang bersama. Meski menu makanan jauh dari mewah namun perut-perut lapar  terlihat lancer melahap sepiring makanan tanpa jeda.

 
Santap malam di "Goeboeg Resto" Bantul

Usai santap siang sekita jam 13.00 WIB. bus yang sama membawa kami menuju Malioboro Jogja hingga jam 17.00.  Selanjutnya rombongan menuju arah ring road  masuk Jalan Wonosari KM 5 (Ketandan), Bantul, DI Yogyakarta untuk isoma dan kuliner di “Goeboek Resto” sembari menikmati design dan interior klasik  ditengah tampu temaram. Usai santap malam kami melanjutkan perjalanan pulang ke Pacitan. (AW)